Rabu, 07 November 2018

MAKALAH HIPERTENSI TERBARU 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang berada diatas batas normal atau optimal yaitu 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik. Penyakit ini dikategorikan sebagai the silent disease karena penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Hipertensi yang terjadi dalam jangka waktu lama dan terus menerus bisa memicu stroke, serangan jantung, gagal jantung dan merupakan penyebab utama gagal ginjal kronik (Purnomo, 2009).
Hipertensi seringkali ditemukan pada lansia. Dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 Provinsi tahun 2012, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah penyakit sendi (52,3%) dan Hipertensi (38,8%), penyakit tersebut merupakan penyebab utama disabilitas pada lansia (Kemenkes RI, 2013).
World Health Organization (WHO, 2013) memperkirakan 1 milyar atau sekitar seperempat dari seluruh populasi orang dewasa di dunia menderita penyakit hipertensi dan dua per-tiga diantaranya berada di Negara berkembang yang berpenghasilan rendah-sedang. Prevalensi hipertensi diperkirakan akan terus meningkat dan dipredisksi pada tahun 2025 sekitar 29% atau 1,6 miliar orang dewasa diseluruh dunia menderita hipertensi, sedangkan di Indonesia angka mencapai 31,7% (Kemenkes RI, 2013).
Berdasarkan Kemenkes RI (2013), Prevalensi di Indonesia sebesar 31,7% atau satu dari tiga orang dewasa mengalami hipertensi, dan 76,1% diantaranya tidak menyadari sudah terkena hipertensi. Prevalensi hipertensi di Pulau Jawa sebesar 41,9 % dan di provinsi banten sebesar 27,6 %. Berdasarkan data 20 besar penyakit rawat jalan di Puskesmas se-Kota Tangerang tahun 2015, penyakit hipertensi menduduki peringkat kedua dengan jumlah penderita sebanyak 53.708 orang (6,10%).
Terapi untuk penanganan penyakit hipertensi pada prinsipnya ada dua macam terapi yang bisa dilakukan yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Penanganan non-farmakologis yaitu meliputi penurunan berat badan, olah raga secara teratur, diet rendah lemak dan garam, serta terapi komplementer (Utami, 2009). Penanganan secara non farmakologis sangat diminati oleh masyarakat karena sangat mudah untuk dipraktekan dan tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak. Selain itu, penanganan non-farmakologis juga tidak memiliki efek samping yang berbahaya tidak seperti penanganan farmakologis. Sehingga masyarakat lebih menyukai penanganan secara non farmakologis dari pada secara farmakologis (Utami, 2009).
Salah satu dari penanganan non farmakologis dalam menyembuhkan penyakit hipertensi yaitu terapi komplementer dengan cara mengkonsumsi tumbuhan herbal yang diyakini mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan baku obat tekanan darah tinggi diantaranya adalah daun seledri daun salam.
Menurut penelitian terdahulu oleh Vania Aprilia Saputra (2012) yang melakukan penelitian tentang pengaruh air rebusan daun salam terhadap tekanan darah laki-laki dewasa, dari 30 responden yang diteliti didapatkan hasil rata-rata tekanan darah sesudah meminum air rebusan daun salam lebih rendah daripada sebelum meminum air rebusan daun salam dengan selisih rata-rata 10 sampai 20 mmHg.
Salam (Syzygium polyanthum) adalah nama pohon penghasil daun rempah yang banyak digunakan dalam masakan Indonesia. Obat tradisional ini secara empiris berkhasiat dalam terapi Hipertensi. Daun salam tumbuh menyebar di Asia Tenggara dan sering ditemukan di pekarangan rumah. Selain sebagai bumbu dapur, daun salam memiliki banyak manfaat untuk kesehatan misalnya untuk mengobati diabetes militus, gastritis, pruritus, diare, mabuk karena alkohol, dan hipertensi (Agoes, 2010).
Seledri atau celery (Apium graveolens) merupakan sayuran tanaman yang oleh banyak masyarakat Tiongkok tradisional sejak lama digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Seledri mengandung apigenin yang sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Selain itu, seledri juga mengandung pthalides dan magnesium yang baik untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan membantu menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Pthalides dapat mereduksi hormon stres yang dapat meningkatkan darah (Soeryoko, 2011). Selain mengandung apigenin dan pthalides seledri juga mengandung gizi yang tinggi, vitamin A,B1, B2, B6 dan juga vitamin C. Seledri juga kaya akan kalium, asam folic, kalsium, magnesium, zat besi, fosfor, sodium dan banyak mengandung asam amino esensial. Selain itu seledri juga pernah menjadi bahan penelitian untuk mengobati hipertensi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro, Rahmawati pada tahun (2010) terdapat perbedaan penurunan tekanan darah sistolik (p< 0,0001) dan tekanan darah diastolik (p = 0,035) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Setelah konsumsi jus seledri, tekanan darah sistolik kelompok perlakuan mengalami penurunan dengan nilai median yaitu 11.50 + 9.26. mmHg dan diastolik menurun 4.50 + 13.58 mmHg sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami penurunan yang bermakna. Jadi kesimpulannya bahwa mengkonsumsi seledri mampu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Didalam seledri banyak terdapat kandungan kimia yang dapat mengobati hipertensi.
Berdasarkan data dan pengertian diatas, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Efektivitas pemberian air rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi”.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “Bagaimanakah efektivitas antara pemberian air rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi?”




C.      Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum untuk mengetahui efektivitas pemberian air rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi
2.    Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi tekanan darah pada lansia penderita hipertensi sebelum dilakukan terapi pemberian air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri.
b.    Mengidentifikasi tekanan darah pada lansia penderita hipertensi setelah dilakukan terapi pemberian air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri.
c.    Menganalisa efektivitas pemberian air rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi

D.      Manfaat Penelitian
1.    Bagi Peneliti
Sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dapat di aplikasikan pada masyarakat.
2.    Bagi Responden
Air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri dapat digunakan sebagai salah satu terapi non farmakologis untuk mengurangi dan mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah yang dapat dilakukan secara mandiri.
3.    Bagi Masyarakat
Sebagai tambahan informasi bagi masyarakat umum dan tentang satu terapi non farmakologis bagi penderita hipertensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam mengontrol tekanan darah.
4.    Bagi Institusi
Sebagai bahan bacaan dan informasi tambahan bagi mahasiswa dan mahasiswi sebagai salah satu terapi komplementer yang bermanfaat dalam mengontrol tekanan darah.
BAB II
LANDASAN TEORI

A.      Lanjut Usia (Lansia)
1.    Pengertian Lanjut Usia
Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lansia apabila usianya 60 tahun ke atas,baik pria maupun wanita. Sedangkan Departeman kesehatan RI menyebutkan seseorang dikatakan berusia lanjut usia dimulai dari usia 55 tahun keatas. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari usia 60 tahun ( Kushariyadi, 2010; Indriana, 2012).
Menurut WHO merumuskaan batasan lanjut usia sebagai berikut:
a.       Usia pertengahan : 45-59 tahun
b.      Lanjut usia : 60 – 74 tahun
c.       Lanjut usia tua : 75- 90 tahun
d.      Usia sangat tua : diatas 90 tahun
(Kushariyadi, 2010)
2.    Proses Menua (Aging)
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di  dalam kehidupan manusia. Proses menua adalah suatu proses  menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Padila, 2013).
Menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan  kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan  mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Keadaan ini  menyebabkan jaringan tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk  infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Disimpulkan bahwa  manusia secara perlahan mengalami kemunduran struktur dan fungsi  organ. Kemunduran struktur dan fungsi organ pada lansia dapat  mempengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia (Nugroho, 2008).


3.    Perubahan yang Terjadi pada Lansia
Menurut Mujahidullah (2012) dan Wallace (2007), beberapa perubahan yang akan terjadi pada lansia diantaranya adalah perubahan fisik, intlektual, dan keagamaan.
1)      Perubahan fisik
a)   Sel, saat seseorang memasuki usia lanjut keadaan sel dalam tubuh akan berubah, seperti jumlahnya yang menurun, ukuran lebuh besar sehingga mekanisme perbaikan sel akan terganggu dan proposi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati beekurang.
b)   Sistem persyarafan, keadaan system persyarafan pada lansia akan mengalami perubahan, seperti mengecilnya syaraf panca indra. Pada indra pendengaran akan terjadi gangguan pendengaran seperti hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga. Pada indra penglihatan akan terjadi seperti kekeruhan pada kornea, hilangnya daya akomodasi dan menurunnya lapang pandang. Pada indra peraba akan terjadi seperti respon terhadap nyeri menurun dan kelenjar keringat berkurang. Pada indra pembau akan terjadinya seperti menurunnya kekuatan otot pernafasan, sehingga kemampuan membau juga berkurang.
c)   Sistem gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunya selara makan , seringnya terjadi konstipasi, menurunya produksi air liur(Saliva) dan gerak peristaltic usus juga menurun.
d)  Sistem genitourinaria, pada lansia ginjal akan mengalami pengecilan sehingga aliran darah ke ginjal menurun.
e)   Sistem musculoskeletal, pada lansia tulang akan kehilangan cairan dan makin rapuh, keadaan tubuh akan lebih pendek, persendian kaku dan tendon mengerut.
f)    Sistem Kardiovaskuler, pada lansia jantung akan mengalami pompa darah yang menurun , ukuran jantung secara kesuruhan menurun dengan tidaknya penyakit klinis, denyut jantung menurun , katup jantung pada lansia akan lebih tebal dan kaku akibat dari akumulasi lipid. Tekanan darah sistolik meningkat pada lansia kerana hilangnya distensibility arteri. Tekanan darah diastolic tetap sama atau meningkat.
2)        Perubahan intelektual
Menurut Hochanadel dan Kaplan dalam Mujahidullah (2012), akibat proses penuaan juga akan terjadi kemunduran pada kemampuan otak seperti perubahan intelegenita Quantion ( IQ) yaitu fungsi otak kanan mengalami penurunan sehingga lansia akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal, pemecehan masalah, konsentrasi dan kesulitan mengenal wajah seseorang. Perubahan yang lain adalah perubahan ingatan , karena penurunan kemampuan otak maka seorang lansia akan kesulitan untuk menerima rangsangan yang diberikan kepadanya sehingga kemampuan untuk mengingat pada lansia juga menurun.
3)        Perubahan keagamaan
Menurut Maslow dalam Mujahidin (2012), pada umumnya lansia akan semakin teratur dalam kehidupan keagamaannya, hal tersebut bersangkutan dengan keadaan lansia yang akan meninggalkan kehidupan dunia

B.       Hipertensi
1.    Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian mortalitas. Tekanan darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sisolik 140 menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto, 2014).
Menurut Rudianto (2013), hipertensi adalah suatu keadaan di mana sescorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systole (bagian atas) dan angka bawah (diastole) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan ala pengukur lekanan darah baik yang berupa cuff air raksa ataupun alat digital ainnya.
Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering ditemukan menjadi faktor utama penyakit koroner. Lebih dari separuh kematian diatas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskuler.  Hipertensi pada usia lanjut dibedakan menjadi dua macam yaitu hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan alau lekanan diastolik sama alau lebih 90 mmHg serta hipertensi sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dan 160mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmlIg (Nugroho, 2008).
2.    Kategori hipertensi
Angka pengukuran tekanan darah hanya menunjukkan besarnya tekanan arah pada saat diulakukan pengukuran (Djunaedi, dkk, 2013)
Kategori hipertensi dapat dibagi seperti tampak pada tabel berikut :
Ketegori
Sistolik
Diastolik
Normal
120 mmHg
< 80 mmHg
Pre Hipertensi
120 – 139 mmHg
80 – 90 mmHg
Hipertensi derajat 1
140– 159 mmHg
90 – 99 mmHg
Hipertensi derajat 2
> 160 mmHg
> 100 mmHg

3.    Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi
Menurut Babatsikou dan Assimina (2010) hipertensi dari penyebabnya dibedakan menjadi 2 macam:
a.       Hipertensi esensial atau hipertensi primer idiopatik). Jenis hipertensi ini masih belum diketahui penyebabnya, meskipun begitu kasus hipertensi esensial ni memiliki beberapa faktor- faktor risiko tertentu, seperti faktor keturunan, usia, ras, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, kurangnya asupan kalium, magnesium, dan kalsium, komsumsi alkohol yang berlebihan, dan kejadian ini terjadi lebih banyak pada lelaki. Gaya hidup yang tidak sehat dengan banyak mengkomsumsi garam juga menjadi salah satu pemicu timbulnya hipertensi. 2123.2 Hipertensi sekunder.
b.      Hipertensi sekunder dikenal juga dengan hipertensi renal. Berikut ini adalah beberapa faktor pemicu timbulnya hipertensi sekunder, antara lain penggunaan estrogen, penyakit ginjal, tumor kelenjar hipofisis, produksi hormon yang berlebihan, seperti hormon adrenal dan tiroid, atau gangguan yang melibatkan tekanan intra kranial meningkat.
4.    Faktor Risiko Hipertensi
Menurut Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (2006) faktor risiko hipertensi yang tidak ditangani dengan baik dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor risiko yang tidak dapat kontrol dan faktor risiko yang dapat dikont Lewa, dkk (2010) menjelaskan, faktor penyebab yang mempengaruhi hipertensi pada lansia yang dapat atau tidak dapat dikontrol antara lain:
a.    Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol
1)        Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada laki-laki sama dengan perempuan Namun perempuan indung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Perempuan yang belum menopause dilindungi oleh homon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar HDI (High Densiy Lipoprotein). Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis Hipertensi lebih banyak terjadi pada laki-laki bila terjadi pada usia dewasa muda Perbandingan antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 690 dari pria dan 11 % pada wanita . Di daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5 % pria dan 10,9 pada wanita (Triyanto, 2014)
Di antara orang dewasa dan setengah baya, ternyata kaum laki-laki lenbih banyak yang menderita hipertensi. Namun, hal ini akan terjadi sebaliknya setelah berumur 55 tahun ketika sebagian wanita mengalami menopause hipertensi lebih banyak dijumpai pada wanita (Djunaedi, dkk, 2013)
2)        Usia
Semakin tinggi usia seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda Hipertensi pada lansia harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat.
3)        Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genctik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Ha ni berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium. Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempnyai riwayat dengan hipertensi . Selan itu didapatkan 70-80 % kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Kushariyadi, 2010)
b.    Faktor risiko yang dapat dikontrol
Faktor risiko yang dapat dikontrol ini menurut Triyanto (2014), yaitu:
1)      Rokok
Meskipun efek jangka panjang merokok erhadap tekanan darah masih belum jelas, namun efek sinergis merokok dengan tekanan darah yang tinggi terhadap risiko kardiovaskuler lah didokumentasikan sccara nyata Merokok menychahkan peninggian tckanan darah Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna.
2)      Alkohol.
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan darah, mungkin dengan cara meningkatkan katekolamin plasma. Kebiasaan minum alkohol berlchihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi
3)      Kurang Aktivitas Olahraga
Kurang aktifitas fisik dapat mengakibatkan berbagai macam keluhan. Salah satunya pada sistem kardiovaskular yaitu ditandai dengan menurunnya denyut nadi maksimal serta menurunnya jumlah darah yang dipompa dalam tiap denyutan. Kurang aktifitas fisik juga dapat meningkatkan tekanan darah, dengan latihan olahraga yang rutin diharapkan akan menurunkan tekanan darah dengan sendirinya.
4)      Obesitas.
Faktor yang diketahui dengan baik adalah obesitas, dimana berhubungan dengan gkatan volurne intravaskuler dan curah jantung. Pengurangan berat badan sedikit saja sudah menurunkan tekanan darah. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit scperti atritis, jantung, dan hipertensi.
5)      Stress.
Hubungan antara stres dengan hipertensi, diduga terjadi melalui aklivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja saat beraktifitas). Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi
5.    Penanganan Hipertensi
Upaya penanganan hipertensi pada dasarnya dapat dilakukan melalui pengendalian faktor risiko dan terapi farmakologi (Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menla, 2006)
a.    Pengendalian Faktor Risiko
1)      Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan.
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan etapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan sckitar 20-33 % memiliki herat badan lebih (overweight). Dengan demikian obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan beral badan.
2)      Mengurangi asupan garam di dalam tubuh
Nasehat pengurangan garam, makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak
3)      Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
4)      Melakukan olah raga teratur
Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol tekanan darah.
5)      Berhenti merokok
Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok.

C.      Terapi Hipertensi dengan Herbal
Penggunaan herbal dan bahan alami sudah banyak dilakukan oleh masyarakat dunia untuk mengontrol dan mengobati penyakit. Begitu pula dengan hipertensi. Banyak tanaman obat atau herbal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai obat antihipertensi. Beberapa tanaman baik secara tradisional pembuktian sccara prcklinis (pengujian terhadap hewan coha) maupun sccara klinis (pengujian terhadap manusia) dapat mengontrol atau mengendalikan tekanan darah (Djunaedi, dkk, 2013).
Mekanisme secara umum tanaman oba dalam mengontrol tekanan darah, antara lain memberikan efek dilatasi pada pembuluh 27 darah dan menghambat efek dilatasi pada pembuluh darah dan menghambat angiotensin converting enzyme (ACE). Selain itu, sediaan herbal dapat pula berupa kombinasi antara efek diuretik (peluruh air seni), efek penenang atau obat tidur, dan efek terapi yang lebih baik (Mun'im dan Hanani, 2011)
Pengurangan volume cairan dalam darah dengan diuretik, dapat menstimulasi penurunan jumlah natrium pada ginjal sehingga tekanan darah menurun Ginjal dapat menurunkan tekanan darah melalui sistem renin-angiotensin. Ginjal akan mengekskresikan renin dalam responnya untuk menurunkan natrium atau sinyal dari susunan dalam responnya untuk menurunkan natrium atau sinyal dari susunan saraf simpatik Renin akan membantu menghasilkan komponen angotensin, suatu pegkonstriksi pembuluh darah yang kuat Penghambatan sistem renin-angiotensin memungkinkan dapat menurunkan kemampuan ginjal dalam meningkatkan tekanan darah (Mun'im dan Hanani, 2011)

Beberapa tanaman yang dapat dijadikan pengobatan secara herbal meliputi:
1.    Daun Seledri
Seledri (Apium gravealens, Linn) merupakan tanaman terna tegak dengan ketinggian lebih kurang dai 50 cm. Semua bagian tanaman seledri memiliki bau yang khas, identik dengan sayur sub. Bentuk batangnya bersegi, bercabang, memiliki ruas, dan tidak berambut. Bunganya berwarna putih, kecil, menyerupai 28 payung, dan majemuk. Buahnya berwarna hijau kekuningan berbentuk kerucut. Daunnya memiliki pertulangan yang menyirip, berwarna hijau, dan bertangkai. Tangkai daun yang berair dapat dimakan mentah sebagai lalapan dan daunnya digunakan sebagai penyedap masakan, seperti sayur sop (Djunaedi, dkk, 2013).
Contoh ramuan seledri secara sederhana sebagai berikut (Djunaedi, dkk, 2013):
Bahan:
·      15 batang seledri utuh, cuci bersih
·      gelas air

Cara membuat dan aturan pemakaian:
a.       Potong seledri secara kasar
b.      Rebus seledri hingga mendidik dan tinggal setengahnya, minum air rebusan sehari 2 kali setelah makan.

Hubungan dengan hipertensi, seledri berkhasiat menurun- kan tekanan darah (hipotensif atau antihipertensi). Sebuah percobaan perfusi pembuluh darah menunjukkan bahwa apigenin mempunyai efek sebagai vasodilator perifer yang berhubungan dengan efek hipotensifnya. Percobaan lainnya menunjukkan efek hipotensif herba seledri berhubungan dengan integritas sistem saraf simpatik (Mun'im & Hanani, 2011)
Penelitian terbaru mengenai efek ekstrak etanol seledri untuk menurunkan tekanan darah pada laki-laki dewasa dilakukan 29 oleh Oddy Litanto (2010) dari Universitas Maranatha, Bandung hasil penclitiannya menunjukkan hahwa terdapat perbcdaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sukarelawan sebelum dan setelah meminum ekstrak etanol seledri. Nilai rata-rata tekanan darah sukarelawan setelah minum ekstrak etanol seledri, yaitu tekanan darah sistole 109,40 dan tekanan darah diastole 70,20 mmHg sedangkan nilai rata-rata tekanan darah schclum minum ekstrak etanol seledri adalah tekanan darah sistole 116,02 dan tekanan darah diastole 74,79 mmHg, dengan demikian, penelitian ini menyimpul tekanan darah sistolik dan diastolik.

2.    Daun Salam
Daun salam (Syzigium Polyanythum (Wight) Walp.) merupakan daun yang hampir selalu ada dalam masakan Indonesia. Daun ini juga banyak digunakan dalam kuliner Asia seperti di Malaysia, Thailand dan Vietnam, Daun salam bisa digunakan dalam keadaan segar atau kering. Selain sebagai bumbu masak, daun salam sebenarnya memilki khasiat bagi kesehatan tubuh yaitu untuk penyakit diabetes, radang lambung, stroke dan penyumbatan pembuluh darah (Winasis, 2015). Salam (Eugenia polyantha), bagian daunnya berkhasiat guna mengatasi antihipertensi, imunomodulator, dan diabetes (Purwanto, 2016).
Kandungan mineral yang ada pada daun salam membuat peredaran darah menjadi lebih lancar dan mengurangi tekanan darah tinggi Daun salam juga mengandung minyak esensial eugenol dan metal kavikol, serta etanol yang berperan aktif sebagai anti jamur dan bakteri. (Savitri, 2016).
Minyak atsiri (seskuiterpen, lakton,dan fenol), yang dapat digunakan untuk mengobati diare, diabetes, maag, hipertensi, kolesterol, migren, gatal- gatal (pruritis), kudis, eksim, dan menghilangkan mabuk alkohol (Astawan, 2016).

Cara Pengobatan:
Cara ke 1: 
Cuci 7-10 lembar daun salam sampai bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum sehari 2 kali, masing-masing ½ gelas.
Cara ke 2:  
Siapkan 7 sampai 10 lembar daun salam kemudian di cuci sampai bersih. Rebus daun salam dengan air 3 gelas. Proses perebusan di hentikan ketika air kira-kira tersisa 1 gelas saja. Setelah air dingin lalu saring. Minumlah air tersebut 2 x sehari pagi dan petang, masing-masing setengah gelas.



DAFTAR PUSTAKA

Azizah,LM. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu
Djunaedi, Edi, Yulianti S, dan Rinata GM. 2013. Hipertensi Kandas Berkat Herbal. Jakarta: FMedia
Pradila. 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nusa Medika
Triyanto, Endang. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hutapea. 2005. Sehat dan Ceria di Usia Senja. Jakarta: Rineka Cipta
Nugroho, Andri. 2008. Hidup Sehat di Usia Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka
Rudianto. 2013. Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Yogyakarta: Sakkhasukma



Tidak ada komentar:

Posting Komentar