BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi
atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit darah tinggi adalah suatu
keadaan dimana tekanan darah seseorang berada diatas batas normal atau optimal
yaitu 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik. Penyakit ini
dikategorikan sebagai the silent disease karena penderita tidak
mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya.
Hipertensi yang terjadi dalam jangka waktu lama dan terus menerus bisa memicu stroke,
serangan jantung, gagal jantung dan merupakan penyebab utama gagal ginjal
kronik (Purnomo, 2009).
Hipertensi
seringkali ditemukan pada lansia. Dari hasil studi tentang kondisi sosial
ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 Provinsi
tahun 2012, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita lansia adalah
penyakit sendi (52,3%) dan Hipertensi (38,8%), penyakit tersebut merupakan
penyebab utama disabilitas pada lansia (Kemenkes RI, 2013).
World
Health Organization (WHO, 2013) memperkirakan 1 milyar atau sekitar seperempat
dari seluruh populasi orang dewasa di dunia menderita penyakit hipertensi dan
dua per-tiga diantaranya berada di Negara berkembang yang berpenghasilan
rendah-sedang. Prevalensi hipertensi diperkirakan akan terus meningkat dan
dipredisksi pada tahun 2025 sekitar 29% atau 1,6 miliar orang dewasa diseluruh dunia menderita hipertensi,
sedangkan di Indonesia angka mencapai 31,7% (Kemenkes RI, 2013).
Berdasarkan
Kemenkes RI (2013), Prevalensi di Indonesia sebesar 31,7% atau satu dari tiga
orang dewasa mengalami hipertensi, dan 76,1% diantaranya tidak menyadari sudah
terkena hipertensi. Prevalensi hipertensi di Pulau Jawa sebesar 41,9 % dan di
provinsi banten sebesar 27,6 %. Berdasarkan data 20 besar penyakit rawat
jalan di Puskesmas se-Kota Tangerang tahun 2015, penyakit hipertensi menduduki
peringkat kedua dengan jumlah penderita sebanyak 53.708 orang (6,10%).
Terapi untuk
penanganan penyakit hipertensi pada prinsipnya ada dua macam terapi yang bisa
dilakukan yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Penanganan
non-farmakologis yaitu meliputi penurunan berat badan, olah raga secara
teratur, diet rendah lemak dan garam, serta terapi komplementer (Utami, 2009).
Penanganan secara non farmakologis sangat diminati oleh masyarakat karena
sangat mudah untuk dipraktekan dan tidak mengeluarkan biaya yang terlalu
banyak. Selain itu, penanganan non-farmakologis juga tidak memiliki efek
samping yang berbahaya tidak seperti penanganan farmakologis. Sehingga
masyarakat lebih menyukai penanganan secara non farmakologis dari pada secara
farmakologis (Utami, 2009).
Salah satu dari
penanganan non farmakologis dalam menyembuhkan penyakit hipertensi yaitu terapi
komplementer dengan cara mengkonsumsi tumbuhan herbal yang diyakini mampu menurunkan
tekanan darah tinggi. Beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan baku
obat tekanan darah tinggi diantaranya adalah daun seledri daun salam.
Menurut
penelitian terdahulu oleh Vania Aprilia Saputra (2012) yang melakukan
penelitian tentang pengaruh air rebusan daun salam terhadap tekanan darah
laki-laki dewasa, dari 30 responden yang diteliti didapatkan hasil rata-rata
tekanan darah sesudah meminum air rebusan daun salam lebih rendah daripada
sebelum meminum air rebusan daun salam dengan selisih rata-rata 10 sampai 20
mmHg.
Salam
(Syzygium polyanthum) adalah nama pohon penghasil daun rempah yang
banyak digunakan dalam masakan Indonesia. Obat tradisional ini secara empiris
berkhasiat dalam terapi Hipertensi. Daun salam tumbuh menyebar di Asia Tenggara
dan sering ditemukan di pekarangan rumah. Selain sebagai bumbu dapur, daun
salam memiliki banyak manfaat untuk kesehatan misalnya untuk mengobati diabetes
militus, gastritis, pruritus, diare, mabuk karena alkohol, dan hipertensi
(Agoes, 2010).
Seledri atau celery (Apium graveolens) merupakan sayuran tanaman
yang oleh banyak masyarakat Tiongkok tradisional sejak lama digunakan untuk
menurunkan tekanan darah. Seledri mengandung apigenin yang sangat
bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi.
Selain itu, seledri juga mengandung pthalides dan magnesium yang baik
untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan membantu
menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Pthalides dapat mereduksi
hormon stres yang dapat meningkatkan darah (Soeryoko, 2011). Selain mengandung apigenin dan pthalides seledri juga mengandung gizi yang tinggi, vitamin A,B1,
B2, B6 dan juga vitamin C. Seledri juga kaya akan kalium, asam folic, kalsium,
magnesium, zat besi, fosfor, sodium dan banyak mengandung asam amino esensial. Selain itu seledri
juga pernah menjadi bahan penelitian untuk mengobati hipertensi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas
Diponegoro, Rahmawati pada tahun (2010) terdapat perbedaan penurunan tekanan
darah sistolik (p< 0,0001) dan tekanan darah diastolik (p = 0,035) antara
kelompok perlakuan dan kontrol. Setelah konsumsi jus seledri, tekanan darah
sistolik kelompok perlakuan mengalami penurunan dengan nilai median yaitu 11.50
+ 9.26. mmHg dan diastolik menurun 4.50 + 13.58 mmHg sedangkan kelompok kontrol
tidak mengalami penurunan yang bermakna. Jadi kesimpulannya bahwa mengkonsumsi seledri
mampu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Didalam seledri
banyak terdapat kandungan kimia yang dapat mengobati hipertensi.
Berdasarkan data dan pengertian
diatas, Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Efektivitas pemberian
air rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan
tekanan darah pada lansia penderita hipertensi”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan
yang dapat dirumuskan adalah “Bagaimanakah efektivitas antara pemberian air
rebusan daun salam dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan
darah pada lansia penderita hipertensi?”
C. Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Penelitian
ini secara umum untuk mengetahui efektivitas pemberian air rebusan daun salam
dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia
penderita hipertensi
2.
Tujuan Khusus
a.
Mengidentifikasi tekanan darah pada lansia penderita hipertensi sebelum
dilakukan terapi pemberian air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri.
b.
Mengidentifikasi tekanan darah pada lansia penderita hipertensi setelah
dilakukan terapi pemberian air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri.
c.
Menganalisa efektivitas pemberian air rebusan daun salam
dengan air rebusan daun seledri terhadap penurunan tekanan darah pada lansia
penderita hipertensi
D. Manfaat
Penelitian
1.
Bagi Peneliti
Sebagai
sarana pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dapat di aplikasikan pada
masyarakat.
2.
Bagi Responden
Air rebusan daun salam dan air rebusan daun seledri
dapat digunakan
sebagai salah satu terapi non farmakologis untuk mengurangi dan mencegah
terjadinya peningkatan tekanan darah yang dapat dilakukan secara mandiri.
3.
Bagi Masyarakat
Sebagai
tambahan informasi bagi masyarakat umum dan tentang satu terapi non
farmakologis bagi penderita hipertensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam
mengontrol tekanan darah.
4.
Bagi Institusi
Sebagai
bahan bacaan dan informasi tambahan bagi mahasiswa dan mahasiswi sebagai salah
satu terapi komplementer yang bermanfaat dalam mengontrol tekanan darah.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Lanjut Usia (Lansia)
1. Pengertian Lanjut Usia
Berdasarkan definisi secara umum,
seseorang dikatakan lansia apabila usianya 60 tahun ke atas,baik pria maupun
wanita. Sedangkan Departeman kesehatan RI menyebutkan seseorang dikatakan
berusia lanjut usia dimulai dari usia 55 tahun keatas. Menurut Badan Kesehatan
Dunia (WHO) usia lanjut dimulai dari usia 60 tahun ( Kushariyadi, 2010;
Indriana, 2012).
Menurut WHO merumuskaan batasan lanjut usia sebagai berikut:
a.
Usia pertengahan : 45-59 tahun
b.
Lanjut usia : 60 – 74 tahun
c.
Lanjut usia tua : 75- 90 tahun
d.
Usia sangat tua : diatas 90 tahun
(Kushariyadi, 2010)
2. Proses Menua (Aging)
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi
di dalam kehidupan manusia. Proses menua
adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Padila, 2013).
Menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri atau mengganti diri dan mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya. Keadaan ini menyebabkan jaringan tidak dapat bertahan
terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita. Disimpulkan bahwa manusia secara perlahan mengalami kemunduran
struktur dan fungsi organ. Kemunduran
struktur dan fungsi organ pada lansia dapat mempengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut
usia (Nugroho, 2008).
3. Perubahan yang Terjadi pada Lansia
Menurut Mujahidullah
(2012) dan Wallace (2007), beberapa perubahan yang akan terjadi pada lansia
diantaranya adalah perubahan fisik, intlektual,
dan keagamaan.
1)
Perubahan fisik
a) Sel,
saat seseorang memasuki usia lanjut keadaan sel dalam tubuh akan berubah,
seperti jumlahnya yang menurun, ukuran lebuh besar sehingga mekanisme perbaikan
sel akan terganggu dan proposi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati
beekurang.
b) Sistem
persyarafan, keadaan system persyarafan pada lansia akan mengalami perubahan,
seperti mengecilnya syaraf panca indra. Pada indra pendengaran akan terjadi
gangguan pendengaran seperti hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga. Pada
indra penglihatan akan terjadi seperti kekeruhan pada kornea, hilangnya daya
akomodasi dan menurunnya lapang pandang. Pada indra peraba akan terjadi seperti
respon terhadap nyeri menurun dan kelenjar keringat berkurang. Pada indra
pembau akan terjadinya seperti menurunnya kekuatan otot pernafasan, sehingga
kemampuan membau juga berkurang.
c) Sistem
gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunya selara makan , seringnya
terjadi konstipasi, menurunya produksi air liur(Saliva) dan gerak peristaltic
usus juga menurun.
d) Sistem genitourinaria, pada lansia ginjal akan
mengalami pengecilan sehingga aliran darah ke ginjal menurun.
e) Sistem
musculoskeletal, pada lansia tulang akan kehilangan cairan dan makin rapuh,
keadaan tubuh akan lebih pendek, persendian kaku dan tendon mengerut.
f) Sistem
Kardiovaskuler, pada lansia jantung akan mengalami pompa darah yang menurun ,
ukuran jantung secara kesuruhan menurun dengan tidaknya penyakit klinis, denyut
jantung menurun , katup jantung pada lansia akan lebih tebal dan kaku akibat
dari akumulasi lipid. Tekanan darah sistolik meningkat pada lansia kerana
hilangnya distensibility arteri. Tekanan darah diastolic tetap sama atau
meningkat.
2)
Perubahan intelektual
Menurut Hochanadel dan
Kaplan dalam Mujahidullah (2012), akibat proses penuaan juga akan terjadi
kemunduran pada kemampuan otak seperti perubahan intelegenita Quantion ( IQ)
yaitu fungsi otak kanan mengalami penurunan sehingga lansia akan mengalami
kesulitan dalam berkomunikasi nonverbal, pemecehan masalah, konsentrasi dan
kesulitan mengenal wajah seseorang. Perubahan yang lain adalah perubahan
ingatan , karena penurunan kemampuan otak maka seorang lansia akan kesulitan
untuk menerima rangsangan yang diberikan kepadanya sehingga kemampuan untuk
mengingat pada lansia juga menurun.
3)
Perubahan keagamaan
Menurut Maslow dalam
Mujahidin (2012), pada umumnya lansia akan semakin teratur dalam kehidupan
keagamaannya, hal tersebut bersangkutan dengan keadaan lansia yang akan
meninggalkan kehidupan dunia
B.
Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian mortalitas. Tekanan
darah 140/90 mmHg didasarkan pada dua fase dalam setiap denyut jantung yaitu
fase sisolik 140 menunjukkan fase darah yang sedang dipompa oleh jantung dan
fase diastolik 90 menunjukkan fase darah yang kembali ke jantung (Triyanto,
2014).
Menurut Rudianto (2013), hipertensi adalah suatu keadaan
di mana sescorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang
ditunjukkan oleh angka systole (bagian atas) dan angka bawah (diastole) pada
pemeriksaan tensi darah menggunakan ala pengukur lekanan darah baik yang berupa
cuff air raksa ataupun alat digital ainnya.
Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering
ditemukan menjadi faktor utama penyakit koroner. Lebih dari separuh kematian
diatas usia 60 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskuler. Hipertensi pada usia lanjut dibedakan menjadi
dua macam yaitu hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan alau lekanan diastolik sama alau lebih 90 mmHg serta hipertensi
sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dan 160mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmlIg (Nugroho, 2008).
2.
Kategori hipertensi
Angka pengukuran
tekanan darah hanya menunjukkan besarnya tekanan arah pada saat diulakukan
pengukuran (Djunaedi, dkk, 2013)
Kategori hipertensi dapat dibagi
seperti tampak pada tabel berikut :
Ketegori
|
Sistolik
|
Diastolik
|
Normal
|
120 mmHg
|
< 80 mmHg
|
Pre Hipertensi
|
120 – 139 mmHg
|
80 – 90 mmHg
|
Hipertensi derajat 1
|
140– 159 mmHg
|
90 – 99 mmHg
|
Hipertensi
derajat 2
|
> 160 mmHg
|
> 100 mmHg
|
3. Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi
Menurut Babatsikou dan Assimina (2010) hipertensi dari
penyebabnya dibedakan menjadi 2 macam:
a. Hipertensi esensial atau hipertensi
primer idiopatik). Jenis hipertensi ini masih belum diketahui penyebabnya,
meskipun begitu kasus hipertensi esensial ni memiliki beberapa faktor- faktor risiko tertentu, seperti faktor keturunan, usia, ras,
obesitas, kurangnya aktivitas fisik, kurangnya asupan kalium, magnesium, dan
kalsium, komsumsi alkohol yang berlebihan, dan kejadian ini terjadi lebih
banyak pada lelaki. Gaya hidup yang tidak sehat dengan banyak mengkomsumsi
garam juga menjadi salah satu pemicu timbulnya hipertensi. 2123.2 Hipertensi sekunder.
b. Hipertensi sekunder dikenal juga
dengan hipertensi renal. Berikut ini adalah beberapa faktor pemicu timbulnya
hipertensi sekunder, antara lain penggunaan estrogen, penyakit ginjal, tumor
kelenjar hipofisis, produksi hormon yang berlebihan, seperti hormon adrenal dan
tiroid, atau gangguan yang melibatkan tekanan intra kranial meningkat.
4. Faktor Risiko
Hipertensi
Menurut Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular
(2006) faktor risiko hipertensi yang tidak ditangani dengan baik dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu faktor risiko yang tidak dapat kontrol dan faktor
risiko yang dapat dikont Lewa, dkk (2010) menjelaskan, faktor penyebab yang
mempengaruhi hipertensi pada lansia yang dapat atau tidak dapat dikontrol
antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat
dikontrol
1)
Jenis
kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada laki-laki sama
dengan perempuan Namun perempuan indung dari penyakit kardiovaskuler sebelum
menopause. Perempuan yang belum menopause dilindungi oleh homon estrogen yang
berperan dalam meningkatkan kadar HDI (High
Densiy Lipoprotein). Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor
pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis Hipertensi lebih
banyak terjadi pada laki-laki bila terjadi pada usia dewasa muda Perbandingan
antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi. Dari
laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 690 dari pria dan 11
% pada wanita . Di daerah perkotaan Semarang didapatkan 7,5 % pria dan 10,9
pada wanita (Triyanto, 2014)
Di antara orang dewasa dan setengah baya, ternyata kaum
laki-laki lenbih banyak yang menderita hipertensi. Namun, hal ini akan terjadi
sebaliknya setelah berumur 55 tahun ketika sebagian wanita mengalami menopause
hipertensi lebih banyak dijumpai pada wanita (Djunaedi, dkk, 2013)
2)
Usia
Semakin tinggi usia seseorang semakin tinggi tekanan
darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang
tinggi dari orang yang berusia lebih muda Hipertensi pada lansia harus
ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati
mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat.
3)
Keturunan
(Genetik)
Adanya faktor genctik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Ha ni berhubungan
dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium. Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko
dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak
mempnyai riwayat dengan hipertensi . Selan itu didapatkan 70-80 % kasus
hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Kushariyadi, 2010)
b. Faktor risiko
yang dapat dikontrol
Faktor
risiko yang dapat dikontrol ini menurut Triyanto (2014),
yaitu:
1) Rokok
Meskipun efek jangka panjang merokok erhadap tekanan
darah masih belum jelas, namun efek sinergis merokok dengan tekanan darah yang
tinggi terhadap risiko kardiovaskuler lah didokumentasikan sccara nyata Merokok
menychahkan peninggian tckanan darah Perokok berat dapat dihubungkan dengan
peningkatan insiden hipertensi maligna.
2) Alkohol.
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga dapat
meningkatkan tekanan darah, mungkin dengan cara meningkatkan katekolamin
plasma. Kebiasaan minum alkohol berlchihan termasuk salah satu faktor resiko
hipertensi
3) Kurang Aktivitas Olahraga
Kurang aktifitas fisik dapat mengakibatkan berbagai macam
keluhan. Salah satunya pada sistem kardiovaskular yaitu ditandai dengan
menurunnya denyut nadi maksimal serta menurunnya jumlah darah yang dipompa
dalam tiap denyutan. Kurang aktifitas fisik juga dapat meningkatkan tekanan
darah, dengan latihan olahraga yang rutin diharapkan akan menurunkan tekanan
darah dengan sendirinya.
4) Obesitas.
Faktor yang diketahui dengan baik adalah obesitas, dimana
berhubungan dengan gkatan volurne intravaskuler dan curah jantung. Pengurangan
berat badan sedikit saja sudah menurunkan tekanan darah. Obesitas dapat
memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit scperti atritis, jantung, dan
hipertensi.
5) Stress.
Hubungan antara stres dengan hipertensi, diduga terjadi
melalui aklivasi saraf simpatis (saraf yang bekerja saat beraktifitas).
Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara
intermiten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan
tekanan darah menetap tinggi
5. Penanganan Hipertensi
Upaya penanganan hipertensi pada dasarnya dapat dilakukan
melalui pengendalian faktor risiko dan terapi farmakologi (Direktorat Pengendalian
Penyakit Tidak Menla, 2006)
a. Pengendalian Faktor Risiko
1) Mengatasi obesitas/menurunkan
kelebihan berat badan.
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan etapi
prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan seorang yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi
ditemukan sckitar 20-33 % memiliki herat badan lebih (overweight). Dengan demikian obesitas harus dikendalikan dengan
menurunkan beral badan.
2) Mengurangi asupan garam di dalam
tubuh
Nasehat pengurangan garam, makan penderita. Pengurangan
asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Batasi sampai dengan
kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak
3) Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau
hipnosis dapat mengontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan
darah.
4) Melakukan olah raga teratur
Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama
30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menambah
kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol
tekanan darah.
5) Berhenti merokok
Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri tidak ada cara
yang benar-benar efektif untuk memberhentikan kebiasaan merokok.
C.
Terapi Hipertensi dengan Herbal
Penggunaan herbal dan bahan alami sudah banyak dilakukan
oleh masyarakat dunia untuk mengontrol dan mengobati penyakit. Begitu pula
dengan hipertensi. Banyak tanaman obat atau herbal yang berpotensi dimanfaatkan
sebagai obat antihipertensi. Beberapa tanaman baik secara tradisional
pembuktian sccara prcklinis (pengujian terhadap hewan coha) maupun sccara
klinis (pengujian terhadap manusia) dapat mengontrol atau mengendalikan tekanan
darah (Djunaedi, dkk, 2013).
Mekanisme secara umum tanaman oba dalam mengontrol
tekanan darah, antara lain memberikan efek dilatasi pada pembuluh 27 darah dan
menghambat efek dilatasi pada pembuluh darah dan menghambat angiotensin
converting enzyme (ACE). Selain itu, sediaan herbal dapat pula berupa kombinasi
antara efek diuretik (peluruh air seni), efek penenang atau obat tidur, dan
efek terapi yang lebih baik (Mun'im dan Hanani, 2011)
Pengurangan volume cairan dalam darah dengan diuretik,
dapat menstimulasi penurunan jumlah natrium pada ginjal sehingga tekanan darah
menurun Ginjal dapat menurunkan tekanan darah melalui sistem renin-angiotensin.
Ginjal akan mengekskresikan renin dalam responnya untuk menurunkan natrium atau
sinyal dari susunan dalam responnya untuk menurunkan natrium atau sinyal dari
susunan saraf simpatik Renin akan membantu menghasilkan komponen angotensin, suatu
pegkonstriksi pembuluh darah yang kuat Penghambatan sistem renin-angiotensin
memungkinkan dapat menurunkan kemampuan ginjal dalam meningkatkan tekanan darah
(Mun'im dan Hanani, 2011)
Beberapa tanaman yang dapat dijadikan pengobatan secara
herbal meliputi:
1.
Daun
Seledri
Seledri (Apium
gravealens, Linn) merupakan tanaman terna tegak dengan ketinggian lebih kurang
dai 50 cm. Semua bagian tanaman seledri memiliki bau yang khas, identik dengan
sayur sub. Bentuk batangnya bersegi, bercabang, memiliki ruas, dan tidak
berambut. Bunganya berwarna putih, kecil, menyerupai 28 payung, dan majemuk.
Buahnya berwarna hijau kekuningan berbentuk kerucut. Daunnya memiliki
pertulangan yang menyirip, berwarna hijau, dan bertangkai. Tangkai daun yang
berair dapat dimakan mentah sebagai lalapan dan daunnya digunakan sebagai
penyedap masakan, seperti sayur sop (Djunaedi, dkk, 2013).
Contoh ramuan seledri
secara sederhana sebagai berikut (Djunaedi, dkk, 2013):
Bahan:
· 15 batang seledri utuh, cuci bersih
· gelas air
Cara membuat
dan aturan pemakaian:
a. Potong seledri secara kasar
b. Rebus seledri hingga mendidik dan
tinggal setengahnya, minum air rebusan sehari 2 kali setelah makan.
Hubungan dengan hipertensi, seledri berkhasiat menurun-
kan tekanan darah (hipotensif atau antihipertensi). Sebuah percobaan perfusi
pembuluh darah menunjukkan bahwa apigenin mempunyai efek sebagai vasodilator
perifer yang berhubungan dengan efek hipotensifnya. Percobaan lainnya
menunjukkan efek hipotensif herba seledri berhubungan dengan integritas sistem
saraf simpatik (Mun'im & Hanani, 2011)
Penelitian terbaru mengenai efek ekstrak etanol seledri
untuk menurunkan tekanan darah pada laki-laki dewasa dilakukan 29 oleh Oddy
Litanto (2010) dari Universitas Maranatha, Bandung hasil penclitiannya menunjukkan
hahwa terdapat perbcdaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah
sukarelawan sebelum dan setelah meminum ekstrak etanol seledri. Nilai rata-rata
tekanan darah sukarelawan setelah minum ekstrak etanol seledri, yaitu tekanan
darah sistole 109,40 dan tekanan darah diastole 70,20 mmHg sedangkan nilai
rata-rata tekanan darah schclum minum ekstrak etanol seledri adalah tekanan
darah sistole 116,02 dan tekanan darah diastole 74,79 mmHg, dengan demikian,
penelitian ini menyimpul tekanan darah sistolik dan diastolik.
2. Daun Salam
Daun salam (Syzigium
Polyanythum (Wight) Walp.) merupakan daun yang hampir selalu ada dalam
masakan Indonesia. Daun ini juga banyak digunakan dalam kuliner Asia seperti di
Malaysia, Thailand dan Vietnam, Daun salam bisa digunakan dalam keadaan segar
atau kering. Selain sebagai bumbu masak, daun salam sebenarnya memilki khasiat
bagi kesehatan tubuh yaitu untuk penyakit diabetes, radang lambung, stroke dan
penyumbatan pembuluh darah (Winasis, 2015). Salam (Eugenia polyantha),
bagian daunnya berkhasiat guna mengatasi antihipertensi, imunomodulator, dan
diabetes (Purwanto, 2016).
Kandungan mineral yang
ada pada daun salam membuat peredaran darah menjadi lebih lancar dan mengurangi
tekanan darah tinggi Daun salam juga mengandung minyak esensial eugenol dan
metal kavikol, serta etanol yang berperan aktif sebagai anti jamur dan bakteri.
(Savitri, 2016).
Minyak atsiri (seskuiterpen, lakton,dan fenol), yang
dapat digunakan untuk mengobati diare, diabetes, maag, hipertensi, kolesterol,
migren, gatal- gatal (pruritis), kudis, eksim, dan menghilangkan mabuk alkohol
(Astawan, 2016).
Cara Pengobatan:
Cara ke 1:
Cuci 7-10 lembar daun salam sampai bersih,
lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan
air saringannya diminum sehari 2 kali, masing-masing ½ gelas.
Cara ke 2:
Siapkan 7 sampai 10 lembar daun salam
kemudian di cuci sampai bersih. Rebus daun salam dengan air 3 gelas. Proses
perebusan di hentikan ketika air kira-kira tersisa 1 gelas saja. Setelah air
dingin lalu saring. Minumlah air tersebut 2 x sehari pagi dan petang,
masing-masing setengah gelas.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah,LM. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Djunaedi, Edi,
Yulianti S, dan Rinata GM. 2013. Hipertensi Kandas Berkat Herbal. Jakarta:
FMedia
Pradila. 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.
Yogyakarta: Nusa Medika
Triyanto, Endang.
2014. Pelayanan Keperawatan Bagi
Penderita Hipertensi Secara Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu
Hutapea. 2005.
Sehat dan Ceria di Usia Senja. Jakarta: Rineka Cipta
Nugroho, Andri.
2008. Hidup Sehat di Usia Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka
Rudianto. 2013.
Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Yogyakarta: Sakkhasukma